Sabtu, 14 September 2013

Perkembangan Kognitif

Sekitar umur 2-4 tahun, anak-anak cenderung menunjukkan banyak kebingungan antara simbol dengan objek yang mereka hadirkan. Pada tingkat perkembangan kognitif, mereka tidak mau mengakui bahwa kata-kata merupakan simbol yang berubah-ubah pada objek dan kejadian, dan bahwa orang dapat berkumpul serta memutuskan untuk menggunakan kata-kata yang berbeda untuk benda-benda. Bahkan mereka cenderung untuk berpikir tentang kata-kata sebagai milik yang melekat pada objek dan kejadian.
Jean Piaget, ahli psikologi dari Swiss, memandang banyak persoalan perkembangan kognitif termasuk cara anak-anak memahami hubungan antara simbol dan objek, bagaimana anak-anak berusaha untuk memecahkan masalah, pengetahuan anak-anak tentang sebab akibat, dan kemampuan mereka untuk mengelompokkan objek dan mengikutsertakan pemikiran yang pasti.
Perkembangan kognitif berpusat pada perkembangan cara penerimaan dan mental anak. Menurut Piaget, anak-anak mencoba berusaha memahami hal-hal baru untuk mengembangkan pola pikir anak dan jika pemahaman anak tidak tercapai, maka anak akan berusaha untuk menyesuaikannya dengan cara membatasinya.
Piaget mengidentifikasi 4 (empat) tahapan utama perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional konkrit dan operasional formal.
Tahap Sensorimotor (lahir – 2 tahun)
Perkembangan kognitif bayi sampai kira-kira berusia 2 tahun pada umumnya mengandalkan observasi dari panca indera dan gerakan tubuh mereka. Satu tanda dari perkembangan ini adalah memahami objek tetap / permanen. Bayi berkembang dengan cara merespon kejadian dengan gerak refleks atau ’pola kesiapan’. Mereka belajar melihat diri mereka sebagai bagian dari objek yang ada di lingkungan.
Tahap Pra-operasional (2 – 7 tahun)
Pra-operasional ditandai oleh adanya pemakaian kata-kata lebih awal dan memanipulasi simbol-simbol yang menggambarkan objek atau benda dan keterikatan atau hubungan di antara mereka. Pemikiran atau sifat anak yang aneh /ganjil menunjukkan fakta bahwa mereka pada umumnya tidak mampu menunjukkan operations (eksploitasi) atau jika mereka bisa menunjukkan operation maka keadaannya akan terbatas. Mental operationspada tahap ini sifatnya fleksibel dan dapat berubah. Tahap pra-operasional ini juga ditandai oleh beberapa hal, antara lain : egosentrisme, ketidakmatangan pikiran / ide / gagasan tentang sebab-sebab dunia di fisik, kebingungan antara simbol dan objek yang mereka wakili, kemampuan untuk fokus pada satu dimensi pada satu waktu dan kebingungan tentang identitas orang dan objek.
Tahap Concrete Operational (6 atau 7 th  – 12 tahun)
Pada tahap konkrit operasional, penambahan dan pengurangan dalam hitung-hitungan bukan merupakan aktivitas yang mudah. Konkrit operasional anak mengenal bahwa ada hubungan antara angka-angka dan bahwa operasi dapat dilaksanakan menurut aturan tertentu. Pada tahap ini anak menunjukkan permulaan dari kapasitas logika orang-orang dewasa. Mereka mengerti aturan dasar dari logika. Bagaimanapun juga, proses berfikir, atau operasi, pada umumnya melibatkan objek yang kelihatan (konkrit) daripada ide yang abstrak. Egosentrisme pada tahap ini sudah mulai berkurang. Kemampuan mereka untuk menggunakan peran dari orang lain dan melihat dunia, dan mereka sendiri, dari perspektif orang-orang lain sudah berkembang dengan pesat. Mereka mengenal bahwa orang melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, karena perbedaan situasi dan perbedaan nilai. Mereka dapat fokus pada lebih dari satu dimensi pada beberapa waktu. Pada tahap ini juga sudah menunjukkan pemahaman akan hukum kekekalan (konservasi).
Tahap Formal Operational ( 12 tahun ke atas)
Tingkat operasi formal merupakan tahapan terakhir dari skema Piaget, yang merupakan tingkatan dari kedewasaan kognitif.  Formal operational biasanya dimulai pada masa pubertas, sekitar umur 11 atau 12 tahun. Akan tetapi tidak semua anak memasuki tingkatan ini pada saat pubertas, dan beberapa orang tidak pernah mencapainya. Tugas utama pada tahap ini meliputi kemampuan klasifikasi, berpikir logis, dan kemampuan hipotetis. Ada beberapa feature yang memberi remaja kapasitas lebih besar untuk memanipulasi dan menghargai lingkungan luar dan dunia imajinasi yang mencakup pemikiran hipotetis, penyelesaian masalah yang sistematis, kemampuan untuk menggunakan simbol dan pemikiran deduksi. Remaja dapat memproyeksikan dirinya pada situasi yang melebihi pengalaman mereka saat itu, dan untuk alasan itu, mereka terbungkus dalam fantasi yang panjang.

Selasa, 03 September 2013

Ekologi Hewan


Ekologi Hewan
Pengertian

Konsep Ekologi 
Ekologi berasal dari bahasa Yunani; Oikos = rumah , Logos = ilmu
Secara umum Ekologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi atau hubungan pengaruh mempengaruhi dan saling ketergantungan antara organisme dengan lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan makhluk hidup itu. Lingkungan tersebut artinya segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup yaitu lingkungan biotik maupun abiotik.
Hal-hal yang dihadapi dalam ekologi sebagai suatu ilmu adalah organisme, kehadirannya dan tingkat kelimpahannya di suatu tempat serta faktor-faktor dan proses-proses penyebabnya. Dengan demikian, definisi-definisi tersebut jika dihubungkan dengan ekologi hewan dapat disimpulkan bahwa Ekologi Hewan adalah suatu cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi-interaksi antara hewan dengan lingkungan biotic dan abiotik secara langsung maupun tidak langsung meliputi sebaran (distribusi) maupun tingkat kelimpahan hewan tersebut.
Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar yang melandasi kinerja hewan-hewan sebagai individu, populasi, komunitas dan ekosistem yang ditempatinya, meliputi pengenalan pola proses interaksi serta faktor-faktor penting yang menyebabkan keberhasilan maupun ketidakberhasilan organisme-organisme dan ekosistem-ekosistem itu dalam mempertahankan keberadaannya. Berbagai faktor dan proses ini merupakan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun permodelan, peramalan dan penerapannya bagi kepentingan manusia, seperti; habitat, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, perilaku (behavior) dan lain-lain.
Setelah mempelajari dan memahami hal-hal tersebut, maka pengetahuan ini dapat kita manfaatkan untuk misalnya, memprediksi kelimpahannya dan menganalisis keadaannya serta peranannya dalam ekosistem, menjaga kelestariannya serta kegiatan lainnya yang menyangkut keberadaan hewan tersebut. Sebagai contoh, kita mempelajari salah satu jenis hewan mulai dari habitatnya di alam, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, prilakunya, dan lain-lain. Setelah semua dipahami dengan pengamatan dan penelitian yang cermat dan teliti, maka pengetahuan itu dapat kita manfaatkan misalnya dalam menjaga kelestariannya di alam dengan menjaga keutuhan lingkungan, habitat alaminya,memprediksi kelimpahan populasinya kelak, menganalisis perannya dalam ekosistem, membudidayakannya serta kegiatan lainnya dengan mengoptimalkan kondisi lingkungannya menyerupai habitat aslinya.
Adapun ruang lingkup ekologi hewan dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu; Synekologi dan Autekologi. 
·         Synekologi adalah materi bahasan dalam kajian atau penelitiannya ialah komunitas dengan berbagai interaksi antar populasi yang terjadi dalam komunitas tersebut. Contohnya; mempelajari atau meneliti tentang distribusi dan kelimpahan jenis ikan tertentu di daerah pasang surut.
·         Autekologi adalah kajian atau penelitian tentang species, yaitu mengenai aspek-aspek ekologi dari individu-individu atau populasi suatu species hewan. Contohnya adalah meneliti atau mempelajari tentang seluk beluk kehidupan lalat buah (Drosophila sp.), mulai dari habitat, makanan, fekunditas, reproduksi, perilaku, respond an lain-lain.
Menurut Ibkar-Kramadibrata (1992) dan Sucipta (1993), secara garis besar pokok bahasan dalam ekologi hewan mencakup hal berikut ini;
a.       Masalah distribusi dan kelimpahan populasi hewan secara local dan regional, mulai tingkat relung ekologi, microhabitat dan habitat, komunitas sampai biogeografi atau penyebaran hewan di muka bumi.
b.      Masalah pengaturan fisiologis, respon serta adaptasi structural maupun perilaku terhadap perubahan lingkungan.
c.       Perilaku dan aktivitas hewan dalam habitatnya.
d.      Perubahan-perubahan secara berkala (harian, musiman, tahunan dsb) dari kehadiran, aktivitas dan kelimpahan populasi hewan.
e.       Dinamika pop[ulasi dan komunitas serta pola interaksi-interaksi hewan dalam populasi dan komunitas.
f.       Pemisahan-pemisahan relung ekologi, species dan ekologi evolusioner.
g.      Masalah produktivitas sekunder dan ekoenergetika.
h.      Ekologi sistem dan permodelan.
Dengan demikian ruang lingkup Ekologi Hewan meliputi obyek kajian individu/organisme, populasi, komunitas sampai ekosistem tentang distribusi dan kelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas sekunder, sistem dan permodelan ekologi.
2.        Peranan Ekologi Bagi Manusia
Manusia adalah organisme heterotrof di bumi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju menyebabkan manusia mengeksplorasi, mengolah dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dengan mudah mengubah kondisi lingkungannya sesuai keinginannya. Dengan keberhasilannya ini dengan mudah menyebabkan laju peningkatan populasi manusia yang relative tinggi (2%) pertahun.
Makin meningkatnya pemanfaatan sumberdaya yang diperlukan manusia telah menyebabkan makin menciutnya luas lingkungan alami dan makin bertambahnya lingkungan buatan. Akibat kegiatan manusia tersebut adalah pencemaran lingkungan oleh limbah buangan industri, kelangkan dan kepunahan species berbagaim organisme, terjadinya perubahan pola cuaca maupun iklim, semakin lebarnya lubang ozon, timbulnya berbagai jenis penyakit yang berbahaya dan lain-lain. 
Manusia kini dihadapkan pada 2 tantangan, yaitu;
1) menjaga kelestarian ketersediaan sumberdaya,
2) memelihara kondisi lingkungannya.

Menghadapi kedua tantangan tersebut, ekologi sangat berperan, misalnya penelitian-penelitian yang menghasilkan pemahaman mengenai berbagai aspek ekologi dari suatu populasi, komunitas ataupun ekosistem sehingga faktor-faktor penting dapat diketahui dengan tepat serta menghasilkan peramalan yang lebih akkurat. Hal ini dapat mendukung upaya-upaya yang akan dilakukan manusia, karena adanya acuan yang lebih baik untuk mencegah terjadinya perubahan-perubahan maupun kerusakan yang dapat merugikan kondisi lingkungan serta menjaga kesinambungan ketersediaan sumberdaya agar lestari dan pemanfaatannya dapat berkelanjutan.
Ekologi hewan bagi manusia cukup penting artinya dalam memberi nilai-nilai terapan dalam kehidupan manusia. Manfaat tersebut terutama menyangkut masalah-masalah pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, serta pengolahan dan konservasi satwa liar. Kisaran toleransi dan faktor-faktor pembatas telah banyak diterapkan dalam bidang-bidang tersebut. Konsep-konsep tersebut juga telah melandasi penanganan berbagai masalah seperti pengendalian hama dan penyakit, penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai indicator menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, hubungan predator mangsa dan parasitoid – inang, vector penyebar penyakit, pengelolaan dan upaya-upaya konservasi satwa liar yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu (pemeliharaan di lingkungan buatan yang menyerupai habitat aslinya) dan lain-lain.
Banyak masalah-masalah yang terpecahkan dengan mempelajari ekologi hewan yang senantiasa berlandaskan pada konsep efisiensi ekologi.
3.        Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi
Permodelan ekologi disusun dalam menghadapi berbagai kondisi alam atau lingkungan yang terus menerus berubah atau dinamis. Dalam hal ini manusia dituntut dapat membuat penjelasan terhadap fenomena-fenomena alam untuk memperoleh manfaat bagi kepentingan hidupnya maupun meramalkan kejadian yang mungkin akan terjadi guna menghindari efek buruknya bagi manusia.Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut diperlukan acuan dan peramalan yang lebih baik dan tepat. Hasil studi tersebut dibuat dalam bentuk permodelan ekologi. Penyusunannya didukung oleh hasil-hasil penelitian ekologi yang memberikan informasi kuantitatif dan pengelolaan datanya banyak dibantu oleh teknik-teknik computer.
Model Ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disederhanakan. Jumlah variable dalam suatu model lebih rendah dari yang sebenarnya, karena yang ditampilkan hanya faktor-faktor dan proses kuncinya saja, yaitu yang paling penting serta paling menentukan. Informasi ini didapatkan dari hasil sejumlah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif maupunh eksperimental di lapangan maupun di laboratorium.
Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologp yang sebenarnya dan telah disempurnakan.
Pendekatan dalam ekologi dapat secara laboratories, lapangan dan matematik. Dalam ekologi hewan salah satu kendala yang sulit adalah pengukuran, metode dan teknik pengamatan. Hal ini disebabkan oleh sifat hewan yang senantiasa bergerak dan berpindah-pindah baik secara liar maupun jinak. Misalnya menyangkut penentuan kelimpahan dan perilaku hewan yang diteliti, ukuran tubuh mulai dari milimikron sampai yang besar dan tinggi, stadia perkembangan, kecepatan dan daya gerak yang berbeda-beda, lingkungan yang ditempati juga berbeda-beda seperti; habitat daratan, perairan tawar ataupun laut serta keunikan dan kespecifikan perilaku hidupnya termasuk aktivitasnya dalam sehari.
Metode dan teknik penelitian bukan saja ditentukan oleh hal-hal tersebut di atas, tetapi hal lain yang sangat penting adalah tujuan, sasaran dan manfaat dari penelitian itu. Penelitian ekologi hewan yang bersifat deskriptif ataupun eksperimental dengan data kuantitatif memerlukan desain (rancangan), prosedur kerja serta pengolahan data secara statistik.
Penelitian eksperimen, pada dasarnya melibatkan 2 komponen atau perangkat obyek yang diteliti, yakni; perangkat eksperimen (perlakuan) dan control. Perangkat control merupakan suatu perangkat obyek yang diamati dan kondisinya serupa benar dengan perangkat eksperimen, kecuali ada hal-hal tertentu merupakan faktor atau proses yang diteliti atau yang diberikan sebagai perlakuan.
Pada umumnya penelitian eksperimen dilakukan di dalam laboratorium yang kondisinya sangat berbeda dengan kondisi di lingkungan alami atau kondisi habitat alami yang ditempati hewan yang diteliti. Kondisi lingkungan dalam suatu penelitian laboratorium merupakan kondisi yang dapat dikendalikan oleh peneliti, misalnya dibuat sangat berbeda dalam satu atau lebih faktor lingkungan dibandingkan dengan kondisi lingkungan alami atau dibuat sedemikian rupa yang sangat mirip dengan kondisi lingkungan alami.
4.        Aplikasi Konsep Ekologi Hewan
Dalam perkembangannya ekologi telah mengalami diversivikasi dengan lahirnya cabang-cabang ilmu ekologi lainnya yang lebih spesifik, dengan materi yang terbatas, khusus dan mendalam yang didasarkan atas kelompok organisme, misalnya; Ekologi Tumbuhan, Ekologi hewan, Ekologi Parasit, Ekologi Gulma, Ekologi Serangga, ekologi Burung dan lainnya.
Ekologi Hewan, bahasannya memerlukan pemahaman mengenai aspek-aspek biologi lainnya juga menyangkut matematika dan statistika. Sebenarnya konsep, asas ataupun generalisasi dalam ekologi hewan telah banyak memberikan nilai-nilai terapan yang cukup dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama dalam bidang-bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehata dan pengolahan maupun konservasi satwa liar. Penerapan ekologi makin penting dengan semakin diperlukannya upaya-upaya manusia dalam memelihara ketersediaan sumberdaya serta kualitas lingkungan hidup yang berkesinambungan.
Dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan, konsep kisaran toleransi dan faktor pembatas serta dalam masalah pengendalian populasi hama dan penyakit (Biological Control). Dengan konsep ekologi hewan juga telah melandasi penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai species indicator yang menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, sudah tercemar atau belum. Konsep lain dalam bidang pertanian dan kesehatan adalah hubungan predator mangsa dan parasitoid inang. Dalam upaya meningkatkan hasil produk ikan maupun ternak, pengelolaan satwa liar baik yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu (pemeliharaan di lingkungan buatan) seluruhnya berazaskan dan berlandaskan efisiensi ekologi dan azas-azas ekologi.
Rangkuman:
1. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.
2. Ekologi hewan adalah cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi antara hewan dengan lingkungannya yang menentukan sebaran (distribusi) dan kemelimpahan hewan-hewan tersebut.
3. Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar yang melanda kinerja hewan-hewan meliputi individu, populasi, komunitas maupun sistem ekologisnya, guna menemukan proses dan mekanisme kunci untuk menyusun permodelan yang akan dipakai dalam peramalan.
4. Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang telah disederhanakan.
5. Ruang lingkup ekologi hewan meliputi kajian individu/organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem tentang distribusi dan kemelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas, sistem dan permodelan ekologi.
6. Pendekatan dalam ekologi hewan dapat secara laboratories dan matematik.
7. Aplikasi penerapan ekologi hewan banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan konservasi satwa liar.


Minggu, 01 September 2013

Pertumbuhan dan Perkembangan


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
                   Pertumbuhan dan perkembangan dalam kancah psikologi umun oleh: Atandira suainingrum (15 november 2010),Banyak orang menyatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan itu sama, tetapi pada dasarnya keduanya berbeda. Meski memiliki hubungan yang saling terkait keduanya dapat dipisahkan, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Objek psikologi adalah perkembangan manusia sebagai pribadi. Pengertian perkembangan menunjukan pada proses kearah yang lebih sempurna dan tidak saja begitu saja dapat diulang kembali. Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan namun berbeda tiap orang.
                   Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan fisik seseorang sedangkan perkembangan berkaitan dengan perubahan psikis seseorang. Proses pertumbuhan dan perkembangan berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Faktor hereditas serta faktor lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, faktor hereditas mengarah pada genetis yang pastinya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Faktor hereditas tidak dapat berubahkarena itu adalah faktor yang sudah ada ketika kita lahir dan akan terus ada.
                   Faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan karena anak pada saat mulai berkembang tentunya berada pada lingkungan tertentu, baik itu berada dilingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Dilingkungan masyarakatlah kita mulai beradaptasi dengan orang banyak dan bagaimana kita bisa menyikapi hal yang ada dalam masyarakat baik itu hal yang positif maupun hal yang negatif. Dalam proses perkembangan manusia menghasikan tingkah laku yang hanya bisa diamati tanpa bisa diukir berlangsung dari lahir sampai akhir hayat dan menuju kearah yang lebih sempurna serta bersifat kontinyu.

B.    Tujuan Penulisan
1.1     Tujuan Umum
         Agar kita mengetahui proses bagaimana terjadinya pertumbuhan dan perkembangan serta faktor yang mempengaruhinya didalam kehidupan sehari-hari.
1.2     Tujuan khusus
         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pertumbuhan perkembangan serta faktor yang mempengaruhinya agar dapat dijadikan pegangan dalam menata masa depan yang lebih disesuaikan dengan kehidupan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian pertumbuhan
                   Menurut kasiram  pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran atau fungsi-fungsi mental,sedangkan perkembangan mengandung makna adanya permunculan hal yang baru. Pada peristiwa pertumbuhan dalam pandangan kasiram tampak adanya perubahan jumlah atau ukuran dari hal yang telah ada, sedangkan pada peristiwa perkembangan tampak adanya sifat-sifat yang baru yang berbeda dari sebelumnya .Bisa disimpulkan bahwa perkembangan adalah perubahan jasmani dan rohani manusia menuju arah yang lebih maju dan sempurna.
                   Pertumbuhan berarti proses perubahan yang berhubungan dengan jasmaniah individu, sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan yang  berhubungan dengan hidup kejiwaan individu yang perubahan tersebut biasanya yang melahirkan tingkah laku yang dapat diamati walaupun tidak bisa diukir seperti yang terjadi pada perubahan jasmani.
                   Karena itu berbeda dengan dengan pertumbuhan perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiri hayat nya, sedangkan pertumbuhan hanya terjadi sampai manusia mencapai kematangan fisik artinya individu tidak bertambah tinggi atau besar jika batas pertumbuhannya tubuhnya telah mencapai kematangan.
B.    Pengertian perkembangan
                   Menurut Alim sumarno, pengertian perkembangan berbeda dengan pertumbuhan meskipun keduanya tidak berdri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Tidak saja anak menjadi lebih besar secara fisik tetapi ukuran dan struktur otak meningkat akibatnya adanya pertumbuhan otak anak memilki kemampuan yang lebih besar untuk belajar mengingat dan berpikir. Sedangkan perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif yang merupakan deretan progesif dari perubahan yang teratur  dan koheren progesif yang menandai bahwa perubahannya terarah membimbing mereka maju dan bukan mundur.
                   Pola perkembangan dapat diramalkan dalam perkembangan motorik akan mengikuti dua hukum yang pertama Hukum Chepalocaudal yaitu perkembangan yang menyebar keseluruh tubuh  dari kepala dan kekaki,ini berarti bahwa kemajuan dalam struktur fungsi pertama-pertama terjadi dibagian kepala kemudian badan dan terakhir kaki. Yang kedua Hukum Proxmodistal yaitu perkembangan dari yang dekat ke yang jauh kemampuan jari jemari seorang anak akan didahului oleh ketrampilan lengan terlebih dahulu.
C.    Perkembangan psiko-fisik siswa
Proses-proses perkembangan tersebut meliputi:
·    Perkembangan Motor (Fisik) Siswa
Dalam psikologi, kata motor dapat diartikan sebagai istilah yang menunjukan pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan,secara singkat , motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik. Perkembangan motor yaitu proses perkembangan yang progesif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragaman ketrampilan fisik anak (motor skills).
·    Perkembangan Kognitif Siswa
Istilah Cognitif berasal dari kata cognition yang berarti mengetahui, dalam arti yang luas  cognition (kognisi) ialah perolehan,penataan,dan penggunaan pengetahuan(Neisser, 1976),  perkembangan kognitif yaitu perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan atau kecerdasan otak anak.
·    Perkembangan Sosial Dan Moral Siswa
Proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalau berkaitan dengan proses belajar.yakni proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak berkomunikasi dengan orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.
D.    Perkembangan perseptual,
      Merupakan proses pengenalan individu terhadap lingkungannya,terbagi atas dua persepsi.
a.     Persepsi visual,
      Persepsi yang didasarkan pada penglihatan, persepsi ini sangat mengutamakan peran indera penglihatan (mata) dalam proses perseptualnya, contahnya siswa kelas 6 mampu merekam objek atau benda yang pernah dilihat nya lalu menuangkannya kembali dalam bentuk gambar
b.     Persepsi pendengaran,
      Merupakan pengamatan dan penilaian terhadap suara yang diterima oleh telinga.
E.    Fase perkembangan.
             Satu hal yang pasti setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan manusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Tugas-tugas perkembangan adalah adanya kematangan fisik tertentu pada fase tertentu, adanya dorongan cita-cita psikologi manusia yang sedang berkembang itu sendiri, adanya tuntutan kultural masyarakat. Setiap fase atau periode perkembangan saling berkaitan satu sama lainnya dengan tujuan yang terkandung didalamnya adalah menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri secara spesifik, prinsip perkembangan dapat diartikan sebagai patokan yang menyatakan kesamaan sifat-sifat dan hakikat dalam perkembangan.
F.    Prinsip perkembangan dan pertumbuhan
Dalam bahasan perkembangan peserta didik ada 2 istilah yang penting yang perlu dipahami yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Berdasarkan penelitian Hurlock (1997) penulis menyimpulkan beberapa prinsip perkembangan dan pertumbuhan sebagai berikut:
1.       Berlangsung seumur hidup dan meliputi seluruh aspek.
2.       Setiap individu memilki kecepatan dan kualitas perkembangan yang berbeda.
3.       Secara relatif perkembangan beraturan dan mengikuti pola-pola tertentu.
4.       Berlangsung secara berangsur-angsur tetapi dalam situasi tertentu.
5.       Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju kesifat yang khusus.
6.       Sampai batas tertentu hal tersebut bisa bergantung  pada faktor pembawaan atau lingkungan.
7.       Perkembangan aspek berlangsung sejajar .
G.   Proses perkembangan
                   Secara umum, proses dapat diartikan sebagai rentetan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata terssebut dalam perkembangan siswa ialah tahap-tahapan perubahan yang dialami seorang siswa,baik bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. Secara global, seluruh proses perkembangan individu sampai menjadi dirinya sendiri berlangsung dalam tiga tahapan, yakni: Tahapan proses konsepsi,Tahapan proses kelahiran,Tahapan proses perkembangan individu bayi tersebut menjadi seorang pribadi yang khas.
H.    Tugas dan fase perkembangan
1.     Karena adanya dorongan dan cita-cita psikologis manusia yang sedang berkembang itu sendiri.
2.     Karena adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu.
3.     Karena adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar.
I.       Faktor yang mempengaruhinya.
                   Menurut john locke (Alex sobur 2009 : 146), mengemukakan bahwa pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang menentukan dalam perkembangan kepribadian anak, pengalaman merupakan proses belajar yang paling baik dengan pengalaman individu dapat mengenal lingkungan dengan lebih baik, pengalaman memberikan pelajaran yang berharga, pengalam yang dapat dipahami dan dicerna, pengalaman ini lebih tertanam dalam pikiran individu itu sendiri. Faktor selanjutnya adalah pendidikan, pendidikan disini merupakan lembaga formal yang dapat membantu perkembangan anak dengan  baik.
      Pada lembaga ini anak dikembangkan dengan cara yang tersusun rapi dan terkonsep, pada saat ini lembaga pendidikan menjadi lembaga vital bagi masyarakat pada umumnya. Jadi faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan disini adalah pengalaman dan pendidikan, kedua faktor tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan individu.
      Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam:
·    Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangan dirinya sendiri.
·    Faktor eksternal yaitu hal-hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungannya.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dapat dibagikan 2 bagian yang pertama faktor heredekonstitusionil dan faktor lingkungan.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
         Dalam bahasan perkembangan peserta didik ada dua istilah yang sangat penting yang perlu dipahami yaitu perkembangan dan pertumbuhan, istilah perkembangan menunjukan pada aspek kualitatif yang berkaitan dengan fungsi psiklogis. Sedangakan pertumbuhan menunjukan pada aspek kuantitatif yang berkaitan dengan struktur biologis. Meskipun istilah pertumbuhan dan perkembangan itu makna yang berbeda namun perlu dipahami keduanya merupakan proses yang saling berhubungan.
Pertumbuhan memilki kaitan dengan kuantitatif, sedangkan perkembangan berkaitan dengan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif.
         Lingkungan dan heredekonstitusional adalah menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.